Pendatang yang Nyobain Masakan Sunda ~ Sandblog | Dunia Digital Marketing

Pendatang yang Nyobain Masakan Sunda

Gue bukan orang Bogor. Jauh-jauh gue merantau dari Jambi buat kuliah di IPB. Awalnya  datang ke Bogor, gue susah banget nyesuain diri dengan makanan sunda. Menurut lidah Gue, rasanya kurang menantang karena ga sepedas di Jambi. Mungkin lidah gue pengen teriak dan kembali ke negara asal. Cuma gue paham, lidah tiap orang beda-beda. Ada yang panjang, ada yang pendek. Ada yang tebel, ada yang tipis (kok jadi ngomongin ukuran ya).

Ya pokoknya lidah tiap orang beda deh. Tapi gue terus paksain menyesuaikan diri. Sesekali gue beli nasi padang, meskipun tetap aja beda sama masakan orang tua. Lambat laun Gue mulai terbiasa, tapi Gue mulai kepikiran kalo seandainya orang tua gue datang ke Bogor gue kasih makan apa ya? Mana orang tua gue lidahnya lidah orang Padang asli lagi. Hmm.. takutnya ga betah pas ngunjungin gue.

Selama 3 tahun, orang tua Gue belum sempat ngunjungin Gue di Bogor. Sampai akhirnya tibalah saat gue wisuda, mengakhiri setiap peluh yang menetes saat berkuliah, mengenakan toga indah dan berfoto dengan bangga bersama rektornya (Joss). Mau tak mau, orang tua gue tentunya harus dateng ke wisudaan gue. Jauh-jauhlah beliau dari Jambi ke Bogor untuk menyaksikan anak laki-laki gantengnya ini wisuda.

Untungnya, orang tua Gue datang ke Bogor ga cuma bawa kecupan selamat dan doa. Tapi juga bawa makanan khas buatan tangannya. Di situ gue merasa lega, gue ga perlu pusing-pusing nyariin makanan yang sesuai lidah orang tua Gue. Namun, kelegaan gue ternyata hanya sementara. Saat acara wisudaan selesai, temen-temen se geng gue ngajakin makan bareng di Bumi Aki, sebuah restoran asli Sunda ternama di Bogor. Di sini gue mulai panik. Wah, yang setengah-setengah Sunda aja orang tua Gue kayaknya perlu penyesuaian. Apalagi yang 100% kaya gini?

Tapi demi menghormati pertemanan yang telah dibangun 3 tahun, gue memaksakan diri untuk mengiyakan ajakan tersebut. Gue gamau pertemanan rusak gara-gara lidah.  Meskipun ada yang bilang lidah lebih tajam daripada pisau (Apasih?). Oke let we see how Bumi Aki looks like

Sesampai di Bumi Aki, gue disuguhi dengan pemandangan air mancur dan tempat bermain anak-anak. Orang Tua Gue dateng bareng adek kecil yang masih berumur 3 tahun. Gue sempat berpikir dia bakal rewel dan minta pulang. Namun gue jadi tenang, akhirnya dia menemukan surga permainan di tempat ini. Dia bermain tanpa rewel sama sekali. Malah susah pas ngajakin pulangnya.

Tempat makan yang disuguhkan di sini adalah tempat makan “Sunda yang elegan banget”. Dihiasi dengan dipan kayu yang kokoh dan suasana kekeluargaan. Gue liat temen-temen Gue bersama orang tua mereka sudah duduk rapi dan memesan makanan masing-masing.


 
Gue yang depan, yang mukanya blur (parah banget kan kameranya)

Liat tempat sedemikian kerennya, Gue jadi takut soal harganya. Jangan-jangan gue pulang dari sini langsung kehabisan duit. Gue pun mulai mengambil menu dengan hati yang deg-degan. Entah karena takut dengan rasa makanannya atau takut dengan harganya. Gue akhirnya membuka satu per satu, halaman demi halaman buku menu dari Bumi Aki.

Gue sudah sampai di lembaran terakhir menu Sunda di Bumi Aki. Ternyata perkiraan Gue sebelumnya tidak berdasar sama sekali. Makanan di Bumi Aki ternyata sangat terjangkau. Sepadan pula dengan kualitas pelayanan dan kemewahan yang disajikan. Gue langsung takjub. Gue akhirnya memesan makanan yang tertera di sana. Ikan peda dan nasi liwet apa ya? Gue lupa nama menunya, yang jelas waktu itu Gue dan Mama makan ikan khas Sunda.

Tak perlu lama menunggu, pelayan pun datang dengan pesanan yang Gue pesan. Inilah saat-saat yang ditunggu-tunggu. Gimana pendapat orang tua Gue soal makanan Sunda. Enak? Asem? asin? nano nano? Ah, yasudahlah.

Gue langsung melihat ke arah pelayan cantik itu. Perlahan tapi pasti, pelayan menaruh makanan tersebut di depan orang tua Gue. Gue melirik ke arah mereka tanpa menoleh ke mereka. (bayangin coba gimana itu).

Awalnya, orang tua Gue merasa aneh. Kenapa yang diberikan bukan air putih, tapi teh tawar. Ya, tradisi di Sunda memang begitu. Saat pertama-tama tinggal di Bogor, Gue juga sedikit kaget dengan hal itu. Mama pun mencoba mencicipi tehnya.

“Wah seger ya” Mama tersenyum. Mungkin senyum gue yang lebih lebar saat Mama bilang begitu.

Ternyata mama ga komen sama sekali dengan rasa masakannya. Dari cara makannya, Gue tau kalo dia menikmati makanan Sunda di Bumi Aki tersebut. Gue kaget, pertama kali Gue nyoba makanan Sunda, Gue ga habisin makanan di piring Gue. Tapi Mama? Ga komen sama sekali! Gue akhirnya nyoba nyicipin apa yang di makan mama. Betapa terkejutnya Gue. Ternyata rasanya bener-bener beda dari makanan Sunda yang pernah Gue makan. Wah recommended banget ternyata tempatnya buat pendatang yang pengen nyobain masakan Sunda.

Suasana sore itu pun berjalan khidmat (kaya upacara bendera), namun diiringi canda tawa. Kita semua (yang baru di wisuda) menceritakan bagaimana petualangan kami di tanah rantau. Suasana kekeluargaan sangat terasa pada saat itu. Padahal orang tua kami semua baru saja berkenalan. That’s the power of Bumi Aki.

Acara pun akhirnya ditutup dengan foto bersama. Seandainya ada waktu untuk bersama dan makan bareng lagi, kita semua ga akan ragu lagi untuk memilih tempat. Karena semua suka makan di Bumi Aki.



 This is Us!



Previous
Next Post »

2 komentar

Click here for komentar
19 April 2017 08.18 ×

Mau share tulisan ini ya sann. Kangen ih.

Reply
avatar
Thanks for your comment