Mencegah Waktu

"Aku suka banget loh buku ini" Teriak Nabila dengan girang

Aku mengalihkan tatapan dari laptopku dengan malas. "Oh buku itu" Ujarku tidak tertarik, kemudian mengalihkan kembali pandanganku ke laptop.

"Yah, kamu selalu begitu, memangnya kamu tau buku ini?" Nabila cemberut dan duduk disebelahku dengan muka masam.

"Itu buku tentang penjelajah waktu, orang Prancis yang menciptakannya. Buku itu bercerita tentang....."

"Stop! Stop Leo Anwar, jangan rusak esensi mengejutkan buku ini..." Cegah Nabila sambil menyilangkan tangan tanda tidak setuju.

Aku menghela nafas "Yaudah, kita di sini untuk ngerjain tugas kelompok, bukan untuk ngebahas buku, lagian aku udah nurutin kamu untuk ngerjain tugas ini di pekarangan depan rumahmu, sekarang kamu malah ga fokus sama tujuan kita". Aku mulai ceramah panjang lebar, dan mengalihkan pandanganku kembali ke laptop.

Aku dan Nabila sudah berteman sejak kecil. Mungkin dia orang tersabar yang bisa menghadapiku. Memang, aku sedikit egois dan bisa dibilang kasar padanya. Tapi dia tidak pernah mengeluh menghadapiku. Termasuk pada saat mengerjakan tugas seperti ini.

"Ya... ya... Bapak Leo, Aku cuma pengen liat-liat buku yang baru Aku dapet dari Papa doang kok, menariiik banget bukunya. Di biografi sang penulis, ada foto penulisnya loh, namanya Abellard Salvino. kalo diliat-liat mirip juga sama kamu mukanya". Ujar Nabila yang seolah tidak memperdulikan ceramah yang tadi kuungkapkan panjang lebar.

"Ya, aku memang keturunan Prancis," Jawabku pendek, tanpa mengalihkan pandangan dari laptop

"Apa? Haha, Prancis bagian mana? Bagian baratnya pulau Jawa?" Nabila terkekeh mengejek.

"Ya terserah kamu kalau tidak percaya. Yang penting, selesaikan dulu tugas ini, aku ingin segera pulang" Aku mulai memasang wajah kesal

"Baik Monsieur Leo, segera Hamba laksanakan", goda Nabila seraya mengikuti arah mataku yang fokus ke laptop.

DUAR!

Tiba-tiba, gumpalan asap mengepul dari halaman belakang rumah Nabila. Aku dan nabila tersentak, karena sebelum asap itu muncul, ada bunyi ledakan kecil sebelumnya. Anehnya, gumpalan tersebut berwarna putih. Jelas itu bukanlah kebakaran atau semacamnya. Apalagi rumah Nabila tampaknya baik-baik saja. Pasti ada sesuatu yang terjadi di pekarangan belakang rumah Nabila. Aku dan Nabila langsung berlari ke arah pekarangan belakang untuk melihat apa yang terjadi.

Bukan main terkejutnya kami berdua, ternyata di belakang rumah terdapat seorang pria yang kelihatannya seumuran denganku. Pakaiannya terlihat seperti bukan pakaian orang Indonesia. Laki-laki tersebut terlihat aneh, rambutnya acak-acakan dan wajahnya menghitam seperti kena ledakan, dan tampaknya dia sedang bingung. Aku langsung menggerakkan tanganku ke arah Nabila seraya menariknya ke belakang. Dalam pikiranku, begitulah caranya melindungi seseorang.

Laki-laki tersebut maju ke arahku, ia melontarkan pertanyaan yang aneh

"Tahun berapa ini?" tanyanya

"2017" Jawabku

"Oh My God! Aku salah lagi". Laki-laki itu terlihat menyesal sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Aku dan Nabila terdiam, kita berdua masih menerjemahkan apa yang sebenarnya terjadi. Jelas ada yang mengganjal di sini. belum lagi aku merasa laki-laki itu memang berwajah mirip denganku. Siapa orang ini?

"Siapa kamu?" Aku mulai menyuarakan apa yang dari tadi kupikirkan

"Oh maaf, perkenalkan, namaku Abellard" jawabnya.

APA?

BERSAMBUNG
Previous
Next Post »
Thanks for your comment