Netralitas Media dan Mahasiswa

“Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncang dunia,” begitulah kata-kata presiden pertama Indonesia untuk membakar semangat pemuda Indonesia. Suara Ir. Soekarno yang tegas dan jelas ini masih terasa sampai sekarang. Kata-kata ini mengajarkan bahwa kekuatan terbesar suatu negara berada pada para pemudanya.

Mengguncang dunia bukan berarti menghancurkan fasilitas negara, namun lebih kepada melakukan aksi kritis demi kepentingan bersama. Hal itulah yang harus dilakukan mahasiswa. Masih terbayang di benak kita protes mahasiswa yang memaksa negara untuk memulai reformasi. Pertaruhan bukan hanya tentang tenaga dan waktu, tak jarang aksi tersebut mengancam nyawa.


Mahasiswa kini telah mengerti alur dan birokrasi yang berlaku di negara. Hal ini bertujun agar aspirasi masyarakat yang disalurkan lewat mahasiswa dapat disampaikan dengan cara yang baik. Hal inilah yang sering dilakukan oleh aktivis-aktivis kampus.


Namun aksi damai malah menjadi bumerang bagi mahasiswa itu sendiri. Kebanyakan masyarakat memiliki pendapat yang bertolak belakang dengan tujuan diadakannya aksi. Permainan media yang dilakukan begitu indah hingga menekan kredibilitas mahasiswa di mata masyarakat. Rusuh, anarkis, dan tidak memiliki sopan santun. Itulah yang dipikirkan pertama kali oleh masyarakat ketika mendengarkan berita tentang aksi mahasiswa.


Pikiran negatif yang ditujukan kepada mahasiswa tersebut tidak terlepas dari permainan media yang dilakukan sekelompok orang yang berkuasa. Bisa kita lihat pada Pemilu yang berlangsung tiga tahun yang lalu. Pasangan “A” menguasai stasiun televisi “merah”, dan pasangan “B” menguasai stasiun televisi “biru”. Berbagai pencitraan dikemas dengan cara yang menarik sehingga menimbulkan perseteruan dari kalangan masyarakat itu sendiri.


Karena menguasai media, sekelompok orang yang memiliki kekuasaan tersebut mampu mengubah pola pikir masyarakat tentang mahasiswa dengan mudah. Permainan media ini terjadi pada  aksi yang dilakukan oleh ratusan mahasiswa di Bogor pada 19 Maret 2015. Aksi berjalan kondusif dan selesai tepat waktu sesuai peraturan yang telah ditetapkan. Setelah berpanas-panasan menyuarakan aspirasi masyarakat, mahasiswa bersalaman bahkan berfoto bersama polisi yang bertugas mengawal aksi pada hari itu. Namun keindahan aksi yang tertib tersebut dirusak oleh pemberitaan yang terjadi esok harinya. Banyak berita negatif yang diberitakan. Salah satu media bahkan menulis judul “Ricuh, Mahasiswa Bentrok Dengan Polisi Saat Aksi SP-1 Jokowi” pada beritanya.


Berita tersebut mampu menghapus citra baik mahasiswa di mata masyarakat. Hal tersebut bisa saja menurunkan semangat mahasiswa dalam menurunkan aspirasi. Padahal mahasiswa yang kritis sangat diperlukan untuk menyadarkan para pemimpin di negara ini.


Buruh melakukan aksi demi kepentingan dan kesejahteraan para buruh itu sendiri. Hal yang sama juga dilakukan oleh pegawai negeri dan komunitas dalam memperjuangkan haknya. Namun mahasiswa melakukan aksi demi kepentingan masyarakat secara umum. Sebagai kalangan yang mengawasi pemerintahan, mahasiswa memperjuangkan hal-hal yang tidak layak dilakukan negara kepada masyarakat.

            
Jutaan keluarga menangis karena kelaparan. Peluh dari tiap kepala keluarga yang membanting tulang untuk menghidupi keluarganya masih belum cukup untuk mengurangi kemiskinan. Harga bahan makanan pokok membuntuti harga bahan bakar minyak yang kian melonjak. Kisruh antar petinggi negara membuat masyarakat bingung untuk mencari tempat mengadu dan menggantungkan harapan. Kejadian ini membuat semua orang geram. Karena itulah mahasiswa harus bergerak dan berani menyampaikan serta mengawal aspirasi masyarakat.

Menanggapi hal tersebut, mahasiswa tidak boleh patah semangat dalam menyuarakan aspirasi masyarakat. Meskipun pemberitaan negatif terus dilakukan, tetaplah berdiri dan bersuara lantang hingga mengguncangkan dunia seperti yang Ir. Soekarno katakan. Jangan hanya duduk dan diam sementara masyarakat masih meratapi nasibnya yang tidak diperhatikan. Dengan perjuangan yang tak kenal lelah, mahasiswa bisa mengubah Indonesia menjadi lebih baik.


Previous
Next Post »
Thanks for your comment