Buzzer Media Sosial

Ramainya pemilihan daerah di Jakarta baru-baru ini ga lepas dari peran media sosial. Banyak orang yang bahkan hanya mengetahui sebuah informasi dari media sosial tanpa klarifikasi terlebih dahulu.

"Lu tau ga paslon A pernah korupsi loh"
"Wah Beneran? Lu tau dari mana?"
"Itu di Instagram banyak yang posting"
"-_-"

Gue ga bilang bahwa informasi di media sosial sudah pasti salah, atau informasi dari media-media konvensional resmi sudah pasti benar. Tapi, sudah selayaknya kita konfirmasi dulu kebenaran sebelum percaya suatu berita. Banyak berita di media sosial mendesain postingannya seolah berbentuk berita, dengan caption sederhana penuh persuasi yang pada nyatanya postingan tersebut tidak nyata. Alias hoax.

Gue pernah liat buzzer-buzzer yang punya akun medsos ribuan, dengan ribuan post di setiap akunnya. dan pada setiap postnya memiliki hashtag yang sama. Tujuannya apa? agar hashtag tersebut menjadi trending topic. Dampaknya apa? masyarakat yang membaca trending topic tersebut berkata "wah, ini berita pasti bener, soalnya banyak yang sedang membicarakan. Jadi trending topic lagi."

Sebagai generasi milenial yang intelektual, mari kita lihat dulu asal-usul sebuah postingan. Jangan pada akhirnya kita malah terpacu emosi dan malah berdebat di media sosial. Beneran, itu gaada faedahnya. Gue sendiri nyesel pernah ikutan debat karena ga tahan. Padahal, yang debat sama kita, itu cuma buzzer. Kesel kan?

Semoga setelah tau tentang cara-cara buzzer menyebarkan berita hoax, pembaca bisa sama-sama mencegah berita hoax. Atau anda yang membaca postingan ini adalah salah satu dari orang yang pernah menyebarkan berita hoax? Please guys, hentikan itu. Adu domba punya dampak yang lebih parah dari pembunuhan. Mari kita saling mengingatkan dan berhati-hati terhadap suatu isu yang muncul.
Previous
Next Post »
Thanks for your comment