Kucing Berkaki Tiga

“Dari kecil sudah seperti itu.” Begitu kata pengurus masjid Al-Ghiffary tentang kucing jantan berkaki tiga yang kutemui. Kucing ini kehilangan satu kaki belakangnya. Namun, semangat hidupnya masih terlihat jelas. Hal itu membuatku tertarik mendekati kucing yang berusia sekitar satu tahun ini.

Kucing malang itu memiliki bulu yang dominan berwarna hitam. Di tempat-tempat tertentu ada bulu berwarna abu-abu dan kuning yang memperindah ciptaan Tuhan ini. Ada bekas luka di punggungnya, pertanda ia pernah terluka ketika bertarung melawan pejantan lain. Panjang buntutnya kira-kira sejengkal. Selalu mengibas ke kanan dan ke kiri, terlebih ketika ia lapar.

Pengurus Masjid Al-Ghiffary menjaga kucing ini dengan baik. Hal itu membuat tubuhnya tetap gemuk dan sehat. Tingginya ketika berjalan tak lebih tinggi dari botol minuman ukuran 1500 ml. Kebersihan bulu halusnyapun selalu terjaga, sehingga tak mengotori lantai mesjid ketika ia menggeliat di lantai.

Sering didekati manusia membuatnya tidak takut pada manusia. Terkadang ia mendekati orang-orang dan mengeluskan kepalanya. Namun matanya tetap awas terhadap kucing lain yang menjadi musuh. Nalurinya seolah mengatakan tidak akan menang jika hanya memiliki tiga kaki. Hal ini membuatnya lebih memilih untuk menghindar ketika didekati kucing lain. Ketika bahaya mendekat, telinganya bergerak-gerak seolah mendapat sinyal.

Memiliki tiga kaki tidak membuatnya malas bergerak. Kucing ini tetap lincah ketika berjalan maupun berlari. Kaki depan digunakan sebagai penumpu, sementara satu kaki dibelakang digunakannya untuk melompat. Karena lincahnya, kucing ini sering diajak bermain oleh beberapa jama’ah masjid. Tak jarang semangatnya malah jadi motivasi orang-orang untuk tidak menyerah dalam menjalani hidup.
Previous
Next Post »
Thanks for your comment